Kami sibuk setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi. Mungkin itu ungkapan yang berlebihan untuk menunjukkan betapa sibuknya kami. Tapi aku tidak bohong, kami benar-benar sibuk dengan pekerjaan yang menyita waktu, menyita waktu kami.
Tak lelahnya aku menyemangatinya, begitu pula dia sebaliknya. Semangat, perhatian dan doa tak hentinya menjadi pelengkap setiap hari kami. Aku tidak mengeluh setiap kali dia membalas pesanku dengan waktu yang lama. Aku mengerti bagaimana kesibukannya.
Yang ku tunggu disetiap harinya adalah waktu malam hari. Ada kopi, ada percakapan kami, ada kerinduan yang berapi-api. Aku tidak peduli harus menahan kantukku, asalkan aku bisa tertawa, mendengar nyanyianya, bahkan menunggu ucapan selamat tidur darinya. Tiada malam yang kami lewati. Karena kami selalu menyisakan beberapa jam untuk mengobrol sepanjang malam sebelum akhirnya aku menyerah dan pergi tidur, sedangkan dia dengan kebiasaannya, begadang.
Sampai pada akhirnya sebuah kesibukan menyita sebagian besar waktu kami. Tidak ada lagi kopi, tidak ada percakapan rutin kami, tidak ada rindu yang berapi-api (re: tak sefrontal dulu untuk diungkapkan) beberapa malam aku lewati tanpa percakapan kami, tanpa ucapan selamat tidur darinya. Padahal aku rindu.
Malam ini aku benar-benar lelah dengan pekerjaanku. Namun lebih lelah lagi ketika perhatianku kau abaikan begitu saja. Terkadang aku rindu percakapan kami sepanjang malam sebelum akhirnya aku pergi tidur. Namun kini kamu terlalu sibuk hanya untuk sekedar membaca pesan dariku. Aku mengerti.
Aku sudah lelah dan mengantuk, namun aku masih menunggumu, menunggu ucapan selamat tidur seperti biasanya. Aaah hanya membuang-buang waktu istirahatku saja sebenarnya. Aku merindukan obrolan sepanjang malam kita, tak sadarkah kamu?
Malam ini tidak ada kami seperti malam sebelumnya. Mungkin sibuk, mungkin lelah, mungkin perlahan menghindar. Pesanku belum saja dibaca olehnya, padahal aku masih menunggu, ini melelahkan.
Dia belum saja mengabariku, dan kopi dicangkirku sudah dingin sejak tadi. Aku rasa tidak ada lagi secangkir kopi untuk menunggu kehadirannya, ini cangkir kopi terakhir. Tak ada lagi kopi, tak ada lagi obrolan kami, tak ada lagi rindu yang berapi-api, semuanya memudar seiring bergantinya hari. Selamat malam sang pengisi sepi.
0 comments:
Post a Comment