Kandita pulang ke apartemennya larut malam dan melihat lampu di mesin penjawab telepon berkedip-kedip. Bukan sesuatu yang tidak biasa, tetapi entah mengapa perasaannya tidak enak. Dia menekan tombol dan mendengar suara berat galva, kekasihnya yang telah hampir tiga tahun bersamanya.
" gue ga bisa ngehubungi nomor hp lo. Besok gue tunggu di cafe tempat biasa! "
Kandita berseru tertahan, perasaannya semakin tidak enak. Seminggu sebelumnya, sepulang kerja, kandita bersama sahabatnya, Anna, memergoki galva sedang berjalan masuk menuju sebuah restoran mewah bersama seorang cewe blasteran sambil bergandengan tangan. Kandita tidak pernah menanyakan tentang kejadian itu kepada Galva. Selama hampir tiga tahun pun, tiap kali kandita merasakan sakithati atau kekecewaan terhadap galva, dia tidak pernah berani untuk mengungkapkannya. Dia sadar betul bagaimana sifat kekasihnya. Dia tau akan memperburuk keadaan apabila dia mengungkapkan semuanya. Kandita tidak ingin kehilangan Galva, dia benar-benar mencintainya..
Keesokan harinya setelah dengan cepat kandita menutup butiknya, dan membiarkan karyawannya pulang lebih cepat dari biasanya. Kandita segera menjalankan mobilnya menuju cafe tempat pertama dia bertemu dengan Galva.
Aroma segar kopi yang baru di seduh menyambut Kandita ketika dia duduk di depan meja di hadapan seorang lelaki berkacamata yang umurnya tiga tahun lebih tua darinya. Mereka berdua duduk dengan tegang. Setelah memesan secangkir capucino, Kandita memberanikan diri untuk membuka pembicaraan.
" ada apa, va? " tanyanya berusaha bersikap tenang.
" hmm, by the way, gimana perkembangan butik kamu? Semua lancar, kan? "
Kandita diam memperhatikan, nampaknya Galva sedang membelokkan pembicaraan atau hanya ingin sekedar basa-basi.
" yah, begitulah. Lalu? "
Galva memutar-mutar jarinya, terlihat cemas " kemarin, nyokap gue gatang dari bali barengan om dan tante.. "
Galva mendadak diam, menunggu tanggapan dari Kandita. Tapi cewe itu hanya duduk diam, menunggu Galva menjelaskan semuanya apa maksud dia menyuruhnya datang ke tempat ini secara mendadak.
" nyokap gue bawa stefani dari bali, lo tau kan stefani temen semasa sd gue? "
Kandita mengangguk dalam diam.
" yah.. nyokap gue berniat untuk menjodohkan gue dengan.. stefani.. "
Kandita sontak kaget, matanya membelalak, namun sedetik kemudian dia berusaha terlihat tenang meskipun rasanya dia ingin teriak saat itu juga.
" kendi, sepertinya kita.. "
" jadi lo terima perjodohan itu? " kata kandita yang akhirnya dengan seluruh tenaga dia memberanikan untuk berbicara dengan nada suara yang tercekat.
" bukan maksud gue untuk.. "
" lalu gue dianggap apa selama ini? Selama 3 taun ini? " potong Kandita cepat-cepat " dan cincin ini apa artinya buat lo? " Kandita mengangkat jari manisnya. Lalu melirik ke jari Galva yang tidak ada satupun cincin yang melingkar dijarinya. Hati Kandita mencelos, matanya terasa perih, bahkan hatinya sudah lebih perih...
Sekitar tiga bulan yang lalu, Galva datang kerumah keluarga Kandita di Bandung. Dia datang untuk melamar Kandita, waktu itu Galva memang tidak datang bersama orangtuanya melainkan tante dan om nya.
Dimas asli bali tetapi dia bekerja di salah satu hotel terbesar di Bandung dan menjabat sebagai general manager. Umurnya sudah cukup matang untuk membina pernikahan bersama Kandita. Namun saat ini Kandita sedang mengurus skripsi, dengan begitu mereka memilih untuk bertunangan sebagai ikatan yang lebih serius lagi sebelum menuju jenjang pernikahan.
Kandita merupakan cewe yang sangat sabar, dia tidak pernah berontak saat dia merasa tersakiti. Dia selalu menutupi kekecewaannya dengan menebarkan senyuman. Dan dia tidak pernah ingin berlarut-larut dalam kesedihan.
Sudah hampir setahun, dia membuka butik nya sendiri. Di umurnya yang masih 23 tahun, dia sudah menjadi seorang pengusaha yang cukup sukses. Designnya untuk menciptakan gaun pengantin sudab banyak dikenal di seluruh indonesia bahkan banyak selebriti yang mempercayakan rancangan gaun pengantin padanya.
Malam itu, hujan turun sangat deras. Titik-titik air hujan mengalir di mobil Kandita. Dia sedang tidak ingin pulang ke apartemennya, dia membutuhkan seorang teman, dia membutuhkan Anna. Kandita sengaja tidak menyetel musik, dia telah beberapa kali menghapus airmatanya. Dia tidak ingin mengingat kejadian sore tadi, balik bayangan wajah itu selalu hadir dipikirannya, seakan melarang Kandita untuk memikirkan hal yang lain.
" maafin gue, Kendi. Tapi hubungan kita ga akan bisa lagi dilanjutin "
Kata-kata itu terus berputar di dalam otaknya. Kandita membenci keadaan itu. Pandangannya tiba-tiba berkabut. Kandita melihat sebuah cahaya motor yang ngebut kearahnya. Mobilnya tiba-tiba oleng tanpa kendali. Kandita mendengar dengan jelas bahwa mobilnya menabrak si pengendara motor itu. Kandita syok setengah mati. Dia buru-buru keluar dari mobil. Diluar masih turun hujan. Kandita membiarkan tubuhnya basah diguyur air hujan, dia berjongkok untuk membuka helm si pengendara motor, dia laki-laki, masih hidup. Dengan hati-hati dan susah payah mengangkat tubuh si cowo seorang diri, kandita membawa laki-laki itu kedalam mobilnya. Dan segera tancap gas menuju RS terdekat.
Kandita menunggu diluar kamar ugd dengan cemas. Tak lama kemudian Anna datang sambil berlari terengah-engah.
" serius lo nabrak cowo? Trus dia sekarang gimana? " cecar Anna
Kandita diam tidak menjawab, wajahnya pucat pasi. Tiba-tiba seorang dokter keluar dari kamar ugd dan Kandita segera menghampirinya.
" bagaimana keadaannya, dok? " tanya Kandita panik
" pasien mengalami patah tulang tangan bagian kanan dan sedikit luka pada kakinya, " jelas dokter
" saya boleh melihatnya, kan, dok?"
" iya boleh, tapi pasien masih pingsan jadi sebaiknya jangan diganggu "
Setelah menunggu dokter pergi, Kandita dan Anna masuk ke dalam kamar dimana lelaki tadi dirawat. Saat melihat papan yang terdapat di ranjang, kandita tau kalau laki-laki itu bernama Marchen. Laki-laki itu berwajah oriental, sangat tampan saat sedang tertidur.
Kandita berdiri di sebelah ranjang. Tanpa terasa airmatanya mengalir begitu saja, dalam hati dia berkata, " maafin gue, gara-gara gue lo jadi celaka. Entah siapa elo tapi gue janji akan mempertaruhkan segalanya supaya lo sembuh.. "
BERSAMBUNG