Dia baru saja datang, padahal kopi di gelas ku
sudah dingin sejak lima belas menit yang lalu. Dia datang dengan senyumnya yang
manis, yang mampu membuat matanya semakin sipit. Aku yang berniat memarahinya
karena keterlambatannya, mengurungkan niatku ketika melihat senyuman yang sudah
satu minggu aku rindukan. Dia duduk di sebelahku, melihat aku sedang sibuk
mendesign di laptop yang ku bawa. Dia segera memesan pesanan yang sudah sangat aku
hafal, coffee red velvet.
“maaf
ya, kak, jadi nunggu lama,” katanya sambil mengelus tanganku. Selalu saja dia
bersikap manis untuk menggoda agar aku tidak memarahinya.
“iya
iya.”
Aku sebenarnya tidak sanggup memarahinya. Dia terlalu
manis untuk ku marahi, dia terlalu muda untuk mengerti kecemasanku saat
menunggunya. Dia lebih muda empat tahun dariku. Kami tidak lebih dari sebatas
teman, mungkin bisa dikatakan adik-kakak. Dia membuka jaket sambil lalu
mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku jaketnya. Dia menyalakan sebatang,
sambil lalu mengambil alih mouse yang sedang ku pegang, tangan kami
bersentuhan. Dengan halus dia menekan tombol exit yang sebelumnya sudah mensave
design yang sedang ku kerjakan.
“jangan
cuekin aku dong, kak,” katanya dengan manja. Benar-benar menggemaskan. Aku mencubit
pipinya. Dia tertawa renyah.
Kami mulai mengobrol dengan obrolan bagaimana
kabar dia selama seminggu, bagaimana hari-harinya, bagaimana kuliahnya, dan
bagaimana dengan ibadahnya. Dia menceritakan panjang lebar dengan sesekali
menunjukkan wajah konyol yang selalu aku rindukan. Wajah yang membuat aku
tersipu, tertawa, bahkan membuat aku garuk-garuk hidung. Entah kenapa setiap di
dekatnya, aku sering kali menggaruk hidungku, rasanya gatal tapi tak ada yang
membuat gatal.
Ketika dia asik bercerita, aku melihat peluang
di pundaknya. Kami begitu dekat, aku mulai menyandarkan kepala ke pundaknya. Rasanya
nyaman sekali, lelah dengan pekerjaan yang menyita waktu kini semua beban
perlahan menghilang, ini yang ku rindukan darinya, aku rindu bersender di
pundaknya. Ketika kami sedang asik bercerita, tiba-tiba handphonenya bergetar
menandakan ada bbm masuk. Aku melihat dengan jelas bahwa ada seorang wanita entah
siapa yang menanyakan sedang dimana dia, dan menanyakan berkali-kali sampai dia
membalasnya. Aku tidak pernah berpikir ada yang lain di hidupnya. Entah mengapa
aku seketika merasa sebal ketika melihat pesan itu. Ku tarik kepalaku dan lalu
duduk dengan tegak. Dia melirik ke arahku, dia menyadari ada perubahan yang
tiba-tiba muncul dari wajahku. Aku diam, tidak berkata apa-apa.
“ciyee,
nampaknya ada yang marah nih,” bisiknya menggodaku.
Aku meliriknya dengan sinis, menahan senyumku. Lalu
dia mencubit hidungku sambil berkata,
“ini hidung tanam dulu, sih, biar tumbuh.”
Lalu tertawa renyah.
Aku memukulnya dengan manja. Padahal aku merasa
jijik sendiri dengan perlakuan manjaku ini. Tapi dia membalas pukulanku dengan
manja, aku tertawa melihat kelakuan konyolnya.
“Our small, stupid
conversations mean so much more to me than you’ll ever know” – Anonymous
Kalau terlalu menyenangkan, rasanya waktu
berlalu begitu cepat dan tiba-tiba kini kami sudah berada di perjalanan pulang.
Aku diam selama di dalam mobil. Entah mengapa dia menjalankan mobil dengan
kecepatan rendah. Ini semakin mengulur waktu, semakin membuatku ingin lebih
lama lagi bersama dengannya, semakin membuatku sadar bahwa di ujung jalan tol
ini, beberapa kilometer lagi kita akan berpisah. Entah besok, lusa, minggu
depan, atau bahkan bulan depan kita akan bertemu kembali.
Aku memegang tangannya yang sedang menggenggam
perseneling. Dia melirikku kaget.
“kita
masih akan bertemu, kan?” tanyaku resah.
“iyalah,
kak, kita pasti akan bertemu, saat kakak butuh aku, aku pasti datang,” katanya
meyakinkanku.
Kenapa ini begitu sulit untuk ku ungkapkan. Ini
perasaan yang ku kunci sejak awal bertemu. Padahal aku berjanji untuk tidak
jatuh cinta. Tapi kini aku benar-benar percaya, bahwa cinta memang telah
membutakanku. Aku mencintai seseorang yang sudah ku anggap sebagai adikku
sendiri, aku mencintai seseorang dengan pundak yang siap menjadi sandaran
disaat aku lelah, aku mencintai si wajah konyol yang selalu menggodaku, aku
mencintainya…
“kalau
aku butuh kamu besok, lusa, dan besoknya lagi apa kamu akan datang?”
Dia hanya melirikku dan tersenyum manis, tapi
tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak ingin bersikap egois padanya. Sesalah apapun
perasaanku terhadapnya, aku juga tahu bahwa sebesar apapun rasa cintaku,
sebesar apapun usahaku untuk menahannya agar tetap tinggal; kami hanya sebatas
teman, tidak lebih.
"A guy and a girl can
just be friends, but at one point or another, they will fall for each other. Maybe
temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever" – (500)
days of Summer.