Tuesday, February 26, 2013 - 0 comments

Mungkin Sementara, Mungkin Di Waktu Yang Salah

Dia baru saja datang, padahal kopi di gelas ku sudah dingin sejak lima belas menit yang lalu. Dia datang dengan senyumnya yang manis, yang mampu membuat matanya semakin sipit. Aku yang berniat memarahinya karena keterlambatannya, mengurungkan niatku ketika melihat senyuman yang sudah satu minggu aku rindukan. Dia duduk di sebelahku, melihat aku sedang sibuk mendesign di laptop yang ku bawa. Dia segera memesan pesanan yang sudah sangat aku hafal, coffee red velvet.
“maaf ya, kak, jadi nunggu lama,” katanya sambil mengelus tanganku. Selalu saja dia bersikap manis untuk menggoda agar aku tidak memarahinya.
“iya iya.”
Aku sebenarnya tidak sanggup memarahinya. Dia terlalu manis untuk ku marahi, dia terlalu muda untuk mengerti kecemasanku saat menunggunya. Dia lebih muda empat tahun dariku. Kami tidak lebih dari sebatas teman, mungkin bisa dikatakan adik-kakak. Dia membuka jaket sambil lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku jaketnya. Dia menyalakan sebatang, sambil lalu mengambil alih mouse yang sedang ku pegang, tangan kami bersentuhan. Dengan halus dia menekan tombol exit yang sebelumnya sudah mensave design yang sedang ku kerjakan.
“jangan cuekin aku dong, kak,” katanya dengan manja. Benar-benar menggemaskan. Aku mencubit pipinya. Dia tertawa renyah.
Kami mulai mengobrol dengan obrolan bagaimana kabar dia selama seminggu, bagaimana hari-harinya, bagaimana kuliahnya, dan bagaimana dengan ibadahnya. Dia menceritakan panjang lebar dengan sesekali menunjukkan wajah konyol yang selalu aku rindukan. Wajah yang membuat aku tersipu, tertawa, bahkan membuat aku garuk-garuk hidung. Entah kenapa setiap di dekatnya, aku sering kali menggaruk hidungku, rasanya gatal tapi tak ada yang membuat gatal.
Ketika dia asik bercerita, aku melihat peluang di pundaknya. Kami begitu dekat, aku mulai menyandarkan kepala ke pundaknya. Rasanya nyaman sekali, lelah dengan pekerjaan yang menyita waktu kini semua beban perlahan menghilang, ini yang ku rindukan darinya, aku rindu bersender di pundaknya. Ketika kami sedang asik bercerita, tiba-tiba handphonenya bergetar menandakan ada bbm masuk. Aku melihat dengan jelas bahwa ada seorang wanita entah siapa yang menanyakan sedang dimana dia, dan menanyakan berkali-kali sampai dia membalasnya. Aku tidak pernah berpikir ada yang lain di hidupnya. Entah mengapa aku seketika merasa sebal ketika melihat pesan itu. Ku tarik kepalaku dan lalu duduk dengan tegak. Dia melirik ke arahku, dia menyadari ada perubahan yang tiba-tiba muncul dari wajahku. Aku diam, tidak berkata apa-apa.
“ciyee, nampaknya ada yang marah nih,” bisiknya menggodaku.
Aku meliriknya dengan sinis, menahan senyumku. Lalu dia mencubit hidungku sambil berkata, 
“ini hidung tanam dulu, sih, biar tumbuh.” Lalu tertawa renyah.
Aku memukulnya dengan manja. Padahal aku merasa jijik sendiri dengan perlakuan manjaku ini. Tapi dia membalas pukulanku dengan manja, aku tertawa melihat kelakuan konyolnya.
“Our small, stupid conversations mean so much more to me than you’ll ever know” – Anonymous
Kalau terlalu menyenangkan, rasanya waktu berlalu begitu cepat dan tiba-tiba kini kami sudah berada di perjalanan pulang. Aku diam selama di dalam mobil. Entah mengapa dia menjalankan mobil dengan kecepatan rendah. Ini semakin mengulur waktu, semakin membuatku ingin lebih lama lagi bersama dengannya, semakin membuatku sadar bahwa di ujung jalan tol ini, beberapa kilometer lagi kita akan berpisah. Entah besok, lusa, minggu depan, atau bahkan bulan depan kita akan bertemu kembali.
Aku memegang tangannya yang sedang menggenggam perseneling. Dia melirikku kaget.
“kita masih akan bertemu, kan?” tanyaku resah.
“iyalah, kak, kita pasti akan bertemu, saat kakak butuh aku, aku pasti datang,” katanya meyakinkanku.
Kenapa ini begitu sulit untuk ku ungkapkan. Ini perasaan yang ku kunci sejak awal bertemu. Padahal aku berjanji untuk tidak jatuh cinta. Tapi kini aku benar-benar percaya, bahwa cinta memang telah membutakanku. Aku mencintai seseorang yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, aku mencintai seseorang dengan pundak yang siap menjadi sandaran disaat aku lelah, aku mencintai si wajah konyol yang selalu menggodaku, aku mencintainya…
“kalau aku butuh kamu besok, lusa, dan besoknya lagi apa kamu akan datang?”
Dia hanya melirikku dan tersenyum manis, tapi tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak ingin bersikap egois padanya. Sesalah apapun perasaanku terhadapnya, aku juga tahu bahwa sebesar apapun rasa cintaku, sebesar apapun usahaku untuk menahannya agar tetap tinggal; kami hanya sebatas teman, tidak lebih.
"A guy and a girl can just be friends, but at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever" – (500) days of Summer.

0 comments:

Post a Comment