Wednesday, February 27, 2013 - 0 comments

Obrolan Tengah Malam

Kami sibuk setiap hari, dari pagi sampai pagi lagi. Mungkin itu ungkapan yang berlebihan untuk menunjukkan betapa sibuknya kami. Tapi aku tidak bohong, kami benar-benar sibuk dengan pekerjaan yang menyita waktu, menyita waktu kami.
Tak lelahnya aku menyemangatinya, begitu pula dia sebaliknya. Semangat, perhatian dan doa tak hentinya menjadi pelengkap setiap hari kami. Aku tidak mengeluh setiap kali dia membalas pesanku dengan waktu yang lama. Aku mengerti bagaimana kesibukannya.
Yang ku tunggu disetiap harinya adalah waktu malam hari. Ada kopi, ada percakapan kami, ada kerinduan yang berapi-api. Aku tidak peduli harus menahan kantukku, asalkan aku bisa tertawa, mendengar nyanyianya, bahkan menunggu ucapan selamat tidur darinya. Tiada malam yang kami lewati. Karena kami selalu menyisakan beberapa jam untuk mengobrol sepanjang malam sebelum akhirnya aku menyerah dan pergi tidur, sedangkan dia dengan kebiasaannya, begadang.
Sampai pada akhirnya sebuah kesibukan menyita sebagian besar waktu kami. Tidak ada lagi kopi, tidak ada percakapan rutin kami, tidak ada rindu yang berapi-api (re: tak sefrontal dulu untuk diungkapkan) beberapa malam aku lewati tanpa percakapan kami, tanpa ucapan selamat tidur darinya. Padahal aku rindu.
Malam ini aku benar-benar lelah dengan pekerjaanku. Namun lebih lelah lagi ketika perhatianku kau abaikan begitu saja. Terkadang aku rindu percakapan kami sepanjang malam sebelum akhirnya aku pergi tidur. Namun kini kamu terlalu sibuk hanya untuk sekedar membaca pesan dariku. Aku mengerti.
Aku sudah lelah dan mengantuk, namun aku masih menunggumu, menunggu ucapan selamat tidur seperti biasanya. Aaah hanya membuang-buang waktu istirahatku saja sebenarnya. Aku merindukan obrolan sepanjang malam kita, tak sadarkah kamu?
Malam ini tidak ada kami seperti malam sebelumnya. Mungkin sibuk, mungkin lelah, mungkin perlahan menghindar. Pesanku belum saja dibaca olehnya, padahal aku masih menunggu, ini melelahkan.
Dia belum saja mengabariku, dan kopi dicangkirku sudah dingin sejak tadi. Aku rasa tidak ada lagi secangkir kopi untuk menunggu kehadirannya, ini cangkir kopi terakhir. Tak ada lagi kopi, tak ada lagi obrolan kami, tak ada lagi rindu yang berapi-api, semuanya memudar seiring bergantinya hari. Selamat malam sang pengisi sepi.
Tuesday, February 26, 2013 - 0 comments

Mungkin Sementara, Mungkin Di Waktu Yang Salah

Dia baru saja datang, padahal kopi di gelas ku sudah dingin sejak lima belas menit yang lalu. Dia datang dengan senyumnya yang manis, yang mampu membuat matanya semakin sipit. Aku yang berniat memarahinya karena keterlambatannya, mengurungkan niatku ketika melihat senyuman yang sudah satu minggu aku rindukan. Dia duduk di sebelahku, melihat aku sedang sibuk mendesign di laptop yang ku bawa. Dia segera memesan pesanan yang sudah sangat aku hafal, coffee red velvet.
“maaf ya, kak, jadi nunggu lama,” katanya sambil mengelus tanganku. Selalu saja dia bersikap manis untuk menggoda agar aku tidak memarahinya.
“iya iya.”
Aku sebenarnya tidak sanggup memarahinya. Dia terlalu manis untuk ku marahi, dia terlalu muda untuk mengerti kecemasanku saat menunggunya. Dia lebih muda empat tahun dariku. Kami tidak lebih dari sebatas teman, mungkin bisa dikatakan adik-kakak. Dia membuka jaket sambil lalu mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku jaketnya. Dia menyalakan sebatang, sambil lalu mengambil alih mouse yang sedang ku pegang, tangan kami bersentuhan. Dengan halus dia menekan tombol exit yang sebelumnya sudah mensave design yang sedang ku kerjakan.
“jangan cuekin aku dong, kak,” katanya dengan manja. Benar-benar menggemaskan. Aku mencubit pipinya. Dia tertawa renyah.
Kami mulai mengobrol dengan obrolan bagaimana kabar dia selama seminggu, bagaimana hari-harinya, bagaimana kuliahnya, dan bagaimana dengan ibadahnya. Dia menceritakan panjang lebar dengan sesekali menunjukkan wajah konyol yang selalu aku rindukan. Wajah yang membuat aku tersipu, tertawa, bahkan membuat aku garuk-garuk hidung. Entah kenapa setiap di dekatnya, aku sering kali menggaruk hidungku, rasanya gatal tapi tak ada yang membuat gatal.
Ketika dia asik bercerita, aku melihat peluang di pundaknya. Kami begitu dekat, aku mulai menyandarkan kepala ke pundaknya. Rasanya nyaman sekali, lelah dengan pekerjaan yang menyita waktu kini semua beban perlahan menghilang, ini yang ku rindukan darinya, aku rindu bersender di pundaknya. Ketika kami sedang asik bercerita, tiba-tiba handphonenya bergetar menandakan ada bbm masuk. Aku melihat dengan jelas bahwa ada seorang wanita entah siapa yang menanyakan sedang dimana dia, dan menanyakan berkali-kali sampai dia membalasnya. Aku tidak pernah berpikir ada yang lain di hidupnya. Entah mengapa aku seketika merasa sebal ketika melihat pesan itu. Ku tarik kepalaku dan lalu duduk dengan tegak. Dia melirik ke arahku, dia menyadari ada perubahan yang tiba-tiba muncul dari wajahku. Aku diam, tidak berkata apa-apa.
“ciyee, nampaknya ada yang marah nih,” bisiknya menggodaku.
Aku meliriknya dengan sinis, menahan senyumku. Lalu dia mencubit hidungku sambil berkata, 
“ini hidung tanam dulu, sih, biar tumbuh.” Lalu tertawa renyah.
Aku memukulnya dengan manja. Padahal aku merasa jijik sendiri dengan perlakuan manjaku ini. Tapi dia membalas pukulanku dengan manja, aku tertawa melihat kelakuan konyolnya.
“Our small, stupid conversations mean so much more to me than you’ll ever know” – Anonymous
Kalau terlalu menyenangkan, rasanya waktu berlalu begitu cepat dan tiba-tiba kini kami sudah berada di perjalanan pulang. Aku diam selama di dalam mobil. Entah mengapa dia menjalankan mobil dengan kecepatan rendah. Ini semakin mengulur waktu, semakin membuatku ingin lebih lama lagi bersama dengannya, semakin membuatku sadar bahwa di ujung jalan tol ini, beberapa kilometer lagi kita akan berpisah. Entah besok, lusa, minggu depan, atau bahkan bulan depan kita akan bertemu kembali.
Aku memegang tangannya yang sedang menggenggam perseneling. Dia melirikku kaget.
“kita masih akan bertemu, kan?” tanyaku resah.
“iyalah, kak, kita pasti akan bertemu, saat kakak butuh aku, aku pasti datang,” katanya meyakinkanku.
Kenapa ini begitu sulit untuk ku ungkapkan. Ini perasaan yang ku kunci sejak awal bertemu. Padahal aku berjanji untuk tidak jatuh cinta. Tapi kini aku benar-benar percaya, bahwa cinta memang telah membutakanku. Aku mencintai seseorang yang sudah ku anggap sebagai adikku sendiri, aku mencintai seseorang dengan pundak yang siap menjadi sandaran disaat aku lelah, aku mencintai si wajah konyol yang selalu menggodaku, aku mencintainya…
“kalau aku butuh kamu besok, lusa, dan besoknya lagi apa kamu akan datang?”
Dia hanya melirikku dan tersenyum manis, tapi tidak menjawab pertanyaanku. Aku tidak ingin bersikap egois padanya. Sesalah apapun perasaanku terhadapnya, aku juga tahu bahwa sebesar apapun rasa cintaku, sebesar apapun usahaku untuk menahannya agar tetap tinggal; kami hanya sebatas teman, tidak lebih.
"A guy and a girl can just be friends, but at one point or another, they will fall for each other. Maybe temporarily, maybe at the wrong time, maybe too late, or maybe forever" – (500) days of Summer.
Thursday, February 21, 2013 - 0 comments

Absurd Itu Ketika...



Jika di katakan ini absurd. Ya, aku rasa ini sangat absurd karena ketika aku berjanji untuk tidak mencintainya, kini bahkan aku takut untuk kehilangannya..
Tuhan seakan mengubah garis tangan yang seharusnya aku lewati. Pada awalnya aku hanya menganggapnya tidak lebih dari sekedar seorang adik laki-laki. Sedari dulu aku memang sangat menginginkan seorang adik laki-laki. Aku anak satu-satunya, selalu merasa kesepian jika ditinggal sendirian di rumah. Aku senang bergaul dengan anak yang lebih muda. Dan aku mendapatkan kenyamanan yang berbeda ketika bertemu dengannya. Dia berumur lebih muda empat tahun dariku. Dengan sopannya dia memanggilku dengan panggilan ‘kakak’ begitu pula aku sebaliknya memanggil dia dengan sebutan ‘adik’. Kini setiap hariku tidak lagi merasa kesepian, karena dia yang selalu menemani hari-hariku. Dia yang memberi semangat saat aku bekerja, dia yang menjadi pundak ketika aku merasa lelah dengan aktivitas sehari-hari yang menyita waktu, dan dia yang menjadi alasan setiap senyumanku.
Semakin hari, aku semakin posesif padanya. Dia dengan umur yang masih muda, masing senang bermain bahkan lebih banyak keluar malam dan mabuk-mabukkan. Aku seperti merasa dia sudah benar-benar menjadi adikku sendiri, karena aku mulai sering memarahinya ketika dia bersikap seperti itu. Aku takut bila dia terjerumus dengan pergaulan yang salah. Aku juga kadang merasa cemburu ketika sedang di sampingku dia sibuk membalas pesan dari wanita lain. Tapi aku tidak mengerti kenapa aku harus merasa cemburu?
Sampai aku sadar ketika kita sedang asik bercanda, dan tiba-tiba tangannya dengan tidak sengaja menggenggam tanganku, aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak lagi menyayanginya sebagai adikku sendiri, tapi aku mencintai dia sebagai diri dia yang sesungguhnya. Aku mulai menunjukkan rasa cemburu dan marah ketika dia membalas pesan pada wanita lain. Aku mulai menunjukkan rasa marah ketika dia menunjukkan foto-foto dia bersama wanita lain. Apa itu hal yang egois bila aku menginginkannya lebih?
Aku sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta padanya. Namun hati berkata lain, tangan hangat yang selalu menggenggam tanganku ketika menyebrang jalan, tangan hangat yang selalu membalas cubitan manja dariku, senyuman manis yang dia tunjukkan ketika menggoda agar aku tidak marah padanya, matanya yang sipit ketika dia tertawa saat aku mengelitikinya, dan pundak tempatku bersandar di kala aku bercerita tentang hari-hariku. Aku mulai mencintai dia...
Jika ini hal yang sangat absurd. Ya, ini sangat absurd ketika yang menganggap adik kakak kini mulai diam-diam jatuh cinta. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. Bahkan setiap malam aku selalu terjaga untuk mendengar bagaimana harinya. Aku ingin kembali bertindak seperti anak-anak yang bisa dengan leluasa mengatakan cinta. Aku ingin menari-nari seperti anak-anak yang baru jatuh cinta. Ada cinta yang sudah melampaui batas umur. Dan aku akan menunggu untuk waktu yang tepat. Ketika dia semakin dalam menyentuh hatiku yang keras untuk disentuh oleh lelaki manapun. Ketika hati sudah melebar melewati cangkangnya. Bahkan kopi yang berasa pait sekalipun akan tetap terasa manis. Karena aku menikmatinya, aku akan menunggu hingga kamu mengerti. Karena aku mengerti kamu belum cukup dewasa untuk memahami arti cinta sesungguhnya. Bukan sekedar cinta seorang kakak kepada adiknya…
Dan ini terlalu absurd untuk dijelaskan dengan perasaan yang sesungguhnya.
Tuesday, February 19, 2013 - 1 comments

Ketertarikan Pada Sesama Jenis



Setiap manusia di lahirkan dengan pasangannya mereka masing-masing. Laki-laki dan perempuan, itu sudah menjadi kodrat seperti yang memang kita ketahui selama ini. Namun apa jadinya kalau hal itu sekarang sudah mulai menyimpang dari yang seharusnya sudah di tentukan oleh Tuhan. Sudah sejak lama banyak pro dan kontra tentang apa yang akan saya tuliskan disini. Semua orang boleh berkritik tapi jangan sekali-sekali anda menghina atau menjudge mereka sebelum anda mengenal mereka lebih dalam lagi. Mereka juga tidak menginginkan hal itu terjadi di diri mereka, namun takdir berkata lain. Tuhan sudah menggariskan semuanya sejak manusia terlahir, namun manusia itu sendiri yang akan menentukan bagaimana takdir mereka selanjutnya.
Seorang teman saya pernah bercerita tentang pengalaman seseorang yang terdekat dengannya. Semuanya menyimpang ketika (panggil : Dia) sejak masih kanak-kanak. Tak ada salahnya seorang anak bermain dengan lawan jenisnya, kan. Semua orang butuh bersosialisasi. Namun hal itu malah membuat Dia bersikap seolah-olah Dia seorang pria, mengerti yang saya maksudkan? Bermain bersama pria, membuat dia berpenampilan layaknya pria, dan bersikap layaknya pria juga. Keluarganya tidak pernah memprotes apa yang menjadi jalan hidupnya. Namun mereka tidak mengetahui seperti apa sosok Dia sebenarnya.
Sedari kecil Dia sudah mempunyai ketertarikan pada sesama jenis, perempuan. Awalnya dengan menjalin pertemanan biasa, lama-lama Dia merasakan kenyamanan yang Dia butuhkan sebagai pendamping hidupnya, yang Dia tidak dapatkan dari seorang pria meskipun Dia lebih banyak bergaul dengan pria. Dia sadar dengan apa yang terjadi di dirinya, ini menyimpang dengan yang sudah seharusnya di gariskan oleh tangan Tuhan. Dia sendiri sebenarnya tidak ingin seperti ini, namun takdir berkata lain. Meskipun Dia pernah mencoba untuk membuka hati kepada seorang pria dan pria itu sangat mencintainya. Namun suatu ketika Dia tidak merasakan kenyamanan seperti yang Dia dapatkan dari sesama jenisnya. Dia kembali pada pasangannya yang dulu. Memang banyak yang mengatakan ketika kita ingin curhat, kita akan mendapatkan perasaan yang sama dengan teman sesama jenis. Namun bukan berarti menyimpang dari ketentuan yang sudah seharusnya.
Suatu ketika dia menemukan seorang wanita yang berbeda agama dengannya, dia cantik dan mengerti apa yang Dia butuhkan saat itu. Namun Dia mungkin tidak berpikir jauh ke depan, karena tanpa Dia sadari Dia mulai jauh dengan agamanya sendiri bahkan orangtuanya. Sebagai orangtua memang tidak melarang apabila kita berteman dengan siapapun, agama apapun, dari suku manapun. Tak ada orangtua yang akan melarang. Namun Dia sudah melewati apa yang sudah menjadi ketentuan dalam keluarganya. Dia sudah terlanjur mencintai wanita itu begitu pula sebaliknya.
Semakin dewasa Dia sudah semakin masuk ke dalam dunia yang menyimpang dari siapa dia sesungguhnya. Dan sampai saat ini Dia masih berhubungan dengan wanita yang Dia cintai. Namun Dia juga berpikir bagaimana Dia akan menjelaskan ketika orangtuanya mengetahui kepribadiannya ini. Bagaimana Dia harus menghadapi pandangan orang-orang yang selalu memandangnya dengan sebelah mata? Apa yang salah dengan jalan hidupnya sebenarnya? Semua orang boleh menentukan jalan hidupnya, dan mereka sudah mempunyai komitmen dengan apa yang mereka lakukan.
Seperti hal nya berbeda agama, kita tidak boleh untuk menjauhi atau membeda-bedakan setiap orang. Semua makhluk itu ciptaan Tuhan. Kita tidak memiliki hak untuk menjudge seseorang hanya dengan melihat dari penampilan luar. Coba terima perbedaan, sesungguhnya itulah yang menjadi jalan hidup mereka. Kita tidak berhak untuk menentukan hidup seseorang, kan?
Monday, February 18, 2013 - 0 comments

Bertahan Karenamu..


BERTAHAN KARENAMU
Kalau aku mau, aku bisa saja berhenti sampai disini, aku bisa saja pergi meninggalkan kamu begitu saja, aku bisa saja lupakan kebodohanku selama ini. Tapi aku tidak bisa. Aku terlanjur jatuh cinta dengan mata indah, hidung mancung, bibir tipis, dan kulit kecoklatanmu itu. Aku terlanjur mencintai setiap inci keindahan pada dirimu. Aku terlanjur mencintai setiap kata obrolan kita setiap malam. Aku terlanjur mencintai setiap ejekan dan kejahilanmu. Aku terlanjur cinta…
Tapi aku tahu, setiap kata cinta akan beresiko untuk kami, terlebih lagi beresiko untuk menyakitiku. Karena setiap kata cinta yang tak pernah terbalaskan, dengan kata maupun tindakan. Hanya aku yang jatuh cinta, selebihnya mengalir  tanpa arah dan tujuan. Seperti bunga yang gugur di musim semi, setidaknya bunga pernah menghiasi pohon. Begitu juga aku, setidaknya aku selalu mengisi hari-hari mu, menyemangatimu, memperhatikanmu, dan mencintaimu.
Lalu apa yang sebenarnya aku harapkan? Bahkan ini terlalu absurd untuk dijelaskan dengan perasaan yang nyata. Aku tetap mencintainya, meskipun dia entah sampai kapan hatinya masih tertambat pada gadis lain. Aku tidak ingin menunjukkan ego ku, aku tidak ingin ambil pusing. Kalau aku cinta, ya sudah aku memang mencintai untuk mengikhlaskan apa yang ku pertahankan selama ini.
Bagiku tidak mudah melepasmu, banyak yang telah terjadi diantara kita. Kalau aku ingi mengeluh, aku rindu setiap obrolan kami sepanjang malam sebelum aku pergi tertidur, aku selalu mimpi indah setelah itu. Tapi apakah dia merindukanku? Dia mencintaiku? Aku rasa tidak! Karena jika denganku, dia bersikap seolah dia tidak ingin tahu dan tidak mau peduli.  Seharusnya dia mengerti, aku tidak pernah bosan dengan setiap ejekannya, aku tidak akan tertidur sebelum aku dengar kabar darinya. Seharusnya dia mengerti aku terus mempertahankan setiap ego di sela-sela pertahananku untuk menginginkan kamu lebih.
Jika aku berani bertanya, salah apa rasa sayangku? Aku juga tahu, semakin aku menunggu semakin aku takut untuk kehilanganmu, kehilangan seseorang yang bahkan tidak pernah melirikku lebih dari melirik gadis lain. Seharusnya aku tahu, sebesar apapun usahaku mempertahankanmu, nantinya aku akan tahu bahwa aku tidak akan sanggup. Aku lelah…
Bagaimanapun kamu tidak mempedulikanku, aku tetap tidak akan meninggalkanmu. Karena ketika aku sudah siap pergi, aku juga harus siap kehilangan teman terbaik, belahan jiwaku, senyumanku, tertawaku, segalanya milikku. Dan itu kamu…
Saturday, February 16, 2013 - 0 comments

Lagu Lama!

Aku tidak mempercayaimu sepenuhnya, bahkan saat kamu berkata "aku hanya mencintaimu"
Buktinya kamu tidak hanya aku yang ada di pikiranmu, orangtuamu, teman-temanmu. Apa kau tidak menganggap mereka?
Aku tidak mempercayaimu sepenuhnya, bahkan saat kamu berkata "aku tidak akan melarangmu"
Buktinya saat aku bermain bersama teman-temanku kamu selalu cerewet menanyakan kapan aku pulang, bahkan kamu memperbesar hal ketika aku pulang larut. Aku tau diri, aku tidak akan macam-macam di belakangmu. Tapi jangan larang aku bersenang-senang sejenak bersama teman-temanku.
Aku tidak mempercayaimu sepenuhnya, bahkan saat kamu bilang "aku tidak akan menyakitimu"
Buktinya kamu selalu marah dan mendiamkan aku beberapa waktu saat kita saling berbeda pendapat. Kamu bahkan menggantungkan hubungan kita hanya karena masalah sepele, kamu menyakitiku!
Aku tidak mempercayaimu sepenuhnya, bahkan saat kamu bilang "aku janji ga akan selingkuh"
Buktinya ketika melihat cewe yang lebih dari aku, kamu meliriknya terus menerus padahal aku ada dihadapanmu. Itu mah tidak selingkuh tapi berpotensi untuk tertarik wanita lain selain aku.
Aku tidak mempercayaimu sepenuhnya, bahkan saat kamu berkata "aku ga akan membuat kamu menangis"
I must admit darling, you told the perfect LIE!!
Bahkan aku tidak akan mempercayaimu sepenuhnya LAGI, karena semua yang kamu katakan.. ah! LAGU LAMA!!
Thursday, February 14, 2013 - 0 comments

Kamu, iya kamu!

Apa ya? Ah entah, aku hanya ingin menuliskan sebuah cerita yang aku lalui bersama kamu. Kalau ingin pamer, sebenarnya aku ingin memamerkan dirimu kepada banyak temanku, namun aku bukanlah siapa-siapa di status percintaanmu. Kami hanya teman, tidak lebih tapi aku menginginkan lebih, apa itu egois? Padahal kalau tentang keegoisan, kamulah yang sangat egois. Ya sangat egois!
Aku selalu menyapa di pagi harimu, aku ingatkan agar kamu tidak lupa makan dan sholat, karena aku tahu bagaimana kesibukan yang menyita waktumu, waktu kita. Meskipun aku bangun pagi, aku selalu mendapatkan balasanmu di siang hari, kamu itu kebluk atau memang terlalu cuek untuk memberi kabar dengan cepat sih?
Siang sampai sore, kamu jarang memberi kabar meskipun aku selalu bawel mengingatkan "jangan lupa solat" kamu hanya membalas seperlunya, ya aku mengerti kesibukanmu. Namun saat malam tiba, waktuku lebih banyak ku habiskan denganmu, meskipun hanya sekedar lewat pesan singkat, tapi aku bahagia.
Di pesan singkat kami, tak henti-hentinya kamu mengejekku, kami selalu berdebat dan aku harus selalu mengalah. Kadang, ejekanmu itu tidak lucu. Tapi kalau sehari tak dengar ejekan darimu, rasanya rindu...
Kami berdebat banyak hal, entah tentang apa yang kamu kerjakan atau tentang perasaanku. Ya kamu tahu kok tentang perasaan yang ku pendam selama ini, tapi kamu tidak protes, kamu tidak juga memberi jawaban, tapi kamu yang selalu menemani setiap hariku.
Kadang, kamu bisa sangat cuek sekali ketika kamu sibuk dengan dunianya. Tapi suatu hari kamu begitu bawel ketika mendengar aku jatuh sakit. Kalau dengan sakit, kamu bisa sebegitu perhatiannya, aku bahkan rela untuk jatuh sakit yang lama agar kamu tidak bersikap dingin dan cuek seperti biasanya. Tapi aku selalu kamu marahi ketika aku susah untuk meminum obat, dan aku bahagia dengan perhatianmu itu.
Kamu juga egois, selalu tidak mau mengalah ketika kami berdebat. Tapi kalau denganmu aku selalu bisa mengerti.
Namun aku tidak lebih cantik dari wanita-wanita yang ada disekitarmu, aku merasa kalah dari mereka. Tapi mereka tidak bisa sepintar aku untuk selalu sabar dan mengerti bagaimana dirimu. Kalau tanpa statuspun kami bisa sedekat ini, apa aku akan mengharapkan yang lebih? Aku hanya tidak ingin bersikap egois.