Thursday, February 21, 2013 - 0 comments

Absurd Itu Ketika...



Jika di katakan ini absurd. Ya, aku rasa ini sangat absurd karena ketika aku berjanji untuk tidak mencintainya, kini bahkan aku takut untuk kehilangannya..
Tuhan seakan mengubah garis tangan yang seharusnya aku lewati. Pada awalnya aku hanya menganggapnya tidak lebih dari sekedar seorang adik laki-laki. Sedari dulu aku memang sangat menginginkan seorang adik laki-laki. Aku anak satu-satunya, selalu merasa kesepian jika ditinggal sendirian di rumah. Aku senang bergaul dengan anak yang lebih muda. Dan aku mendapatkan kenyamanan yang berbeda ketika bertemu dengannya. Dia berumur lebih muda empat tahun dariku. Dengan sopannya dia memanggilku dengan panggilan ‘kakak’ begitu pula aku sebaliknya memanggil dia dengan sebutan ‘adik’. Kini setiap hariku tidak lagi merasa kesepian, karena dia yang selalu menemani hari-hariku. Dia yang memberi semangat saat aku bekerja, dia yang menjadi pundak ketika aku merasa lelah dengan aktivitas sehari-hari yang menyita waktu, dan dia yang menjadi alasan setiap senyumanku.
Semakin hari, aku semakin posesif padanya. Dia dengan umur yang masih muda, masing senang bermain bahkan lebih banyak keluar malam dan mabuk-mabukkan. Aku seperti merasa dia sudah benar-benar menjadi adikku sendiri, karena aku mulai sering memarahinya ketika dia bersikap seperti itu. Aku takut bila dia terjerumus dengan pergaulan yang salah. Aku juga kadang merasa cemburu ketika sedang di sampingku dia sibuk membalas pesan dari wanita lain. Tapi aku tidak mengerti kenapa aku harus merasa cemburu?
Sampai aku sadar ketika kita sedang asik bercanda, dan tiba-tiba tangannya dengan tidak sengaja menggenggam tanganku, aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak lagi menyayanginya sebagai adikku sendiri, tapi aku mencintai dia sebagai diri dia yang sesungguhnya. Aku mulai menunjukkan rasa cemburu dan marah ketika dia membalas pesan pada wanita lain. Aku mulai menunjukkan rasa marah ketika dia menunjukkan foto-foto dia bersama wanita lain. Apa itu hal yang egois bila aku menginginkannya lebih?
Aku sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta padanya. Namun hati berkata lain, tangan hangat yang selalu menggenggam tanganku ketika menyebrang jalan, tangan hangat yang selalu membalas cubitan manja dariku, senyuman manis yang dia tunjukkan ketika menggoda agar aku tidak marah padanya, matanya yang sipit ketika dia tertawa saat aku mengelitikinya, dan pundak tempatku bersandar di kala aku bercerita tentang hari-hariku. Aku mulai mencintai dia...
Jika ini hal yang sangat absurd. Ya, ini sangat absurd ketika yang menganggap adik kakak kini mulai diam-diam jatuh cinta. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. Bahkan setiap malam aku selalu terjaga untuk mendengar bagaimana harinya. Aku ingin kembali bertindak seperti anak-anak yang bisa dengan leluasa mengatakan cinta. Aku ingin menari-nari seperti anak-anak yang baru jatuh cinta. Ada cinta yang sudah melampaui batas umur. Dan aku akan menunggu untuk waktu yang tepat. Ketika dia semakin dalam menyentuh hatiku yang keras untuk disentuh oleh lelaki manapun. Ketika hati sudah melebar melewati cangkangnya. Bahkan kopi yang berasa pait sekalipun akan tetap terasa manis. Karena aku menikmatinya, aku akan menunggu hingga kamu mengerti. Karena aku mengerti kamu belum cukup dewasa untuk memahami arti cinta sesungguhnya. Bukan sekedar cinta seorang kakak kepada adiknya…
Dan ini terlalu absurd untuk dijelaskan dengan perasaan yang sesungguhnya.

0 comments:

Post a Comment