Jika di katakan ini absurd. Ya, aku rasa ini
sangat absurd karena ketika aku berjanji untuk tidak mencintainya, kini bahkan
aku takut untuk kehilangannya..
Tuhan seakan mengubah garis tangan yang
seharusnya aku lewati. Pada awalnya aku hanya menganggapnya tidak lebih dari
sekedar seorang adik laki-laki. Sedari dulu aku memang sangat menginginkan
seorang adik laki-laki. Aku anak satu-satunya, selalu merasa kesepian jika
ditinggal sendirian di rumah. Aku senang bergaul dengan anak yang lebih muda. Dan
aku mendapatkan kenyamanan yang berbeda ketika bertemu dengannya. Dia berumur
lebih muda empat tahun dariku. Dengan sopannya dia memanggilku dengan panggilan
‘kakak’ begitu pula aku sebaliknya memanggil dia dengan sebutan ‘adik’. Kini setiap
hariku tidak lagi merasa kesepian, karena dia yang selalu menemani hari-hariku.
Dia yang memberi semangat saat aku bekerja, dia yang menjadi pundak ketika aku
merasa lelah dengan aktivitas sehari-hari yang menyita waktu, dan dia yang
menjadi alasan setiap senyumanku.
Semakin hari, aku semakin posesif padanya. Dia dengan
umur yang masih muda, masing senang bermain bahkan lebih banyak keluar malam
dan mabuk-mabukkan. Aku seperti merasa dia sudah benar-benar menjadi adikku
sendiri, karena aku mulai sering memarahinya ketika dia bersikap seperti itu. Aku
takut bila dia terjerumus dengan pergaulan yang salah. Aku juga kadang merasa
cemburu ketika sedang di sampingku dia sibuk membalas pesan dari wanita lain. Tapi
aku tidak mengerti kenapa aku harus merasa cemburu?
Sampai aku sadar ketika kita sedang asik
bercanda, dan tiba-tiba tangannya dengan tidak sengaja menggenggam tanganku,
aku merasakan hal yang berbeda. Aku tidak lagi menyayanginya sebagai adikku
sendiri, tapi aku mencintai dia sebagai diri dia yang sesungguhnya. Aku mulai
menunjukkan rasa cemburu dan marah ketika dia membalas pesan pada wanita lain. Aku
mulai menunjukkan rasa marah ketika dia menunjukkan foto-foto dia bersama
wanita lain. Apa itu hal yang egois bila aku menginginkannya lebih?
Aku sudah berjanji untuk tidak jatuh cinta
padanya. Namun hati berkata lain, tangan hangat yang selalu menggenggam
tanganku ketika menyebrang jalan, tangan hangat yang selalu membalas cubitan
manja dariku, senyuman manis yang dia tunjukkan ketika menggoda agar aku tidak
marah padanya, matanya yang sipit ketika dia tertawa saat aku mengelitikinya,
dan pundak tempatku bersandar di kala aku bercerita tentang hari-hariku. Aku mulai
mencintai dia...
Jika ini hal yang sangat absurd. Ya, ini sangat
absurd ketika yang menganggap adik kakak kini mulai diam-diam jatuh cinta. Ada banyak
hal yang ingin aku sampaikan. Bahkan setiap malam aku selalu terjaga untuk
mendengar bagaimana harinya. Aku ingin kembali bertindak seperti anak-anak yang
bisa dengan leluasa mengatakan cinta. Aku ingin menari-nari seperti anak-anak
yang baru jatuh cinta. Ada cinta yang sudah melampaui batas umur. Dan aku akan
menunggu untuk waktu yang tepat. Ketika dia semakin dalam menyentuh hatiku yang
keras untuk disentuh oleh lelaki manapun. Ketika hati sudah melebar melewati
cangkangnya. Bahkan kopi yang berasa pait sekalipun akan tetap terasa manis. Karena
aku menikmatinya, aku akan menunggu hingga kamu mengerti. Karena aku mengerti
kamu belum cukup dewasa untuk memahami arti cinta sesungguhnya. Bukan sekedar
cinta seorang kakak kepada adiknya…
Dan ini terlalu absurd untuk dijelaskan dengan
perasaan yang sesungguhnya.
0 comments:
Post a Comment