Tidak pernah aku menyangka akan mengakhiri semuanya begitu pelan dan tenang, aku tidak ingin menyakitimu begitu pula dengan hatiku sendiri. Aku tidak akan pernah munafik bahwa aku begitu menyayangimu begitu pula aku menyayangi diriku sendiri.
Awalnya semua memang terasa menyenangkan, ada aku dan kamu yang telah menjadi kita, tak ada lagi ruang kosong yang perlu kita isi karena semua sudah terisi oleh cinta yang kita bina selama ini. Aku bahagia mendapatkan perhatian setiap hari darimu, mendapatkan pesan singkat yang terkadang membuat aku tertawa sendirian, aku seperti orang gila, ya gila karena cintamu..
Bulan demi bulan kita lalui sampai pada akhirnya ketakutan itu muncul, ketakutan akan kehilangan "kita". Seperti pada dasarnya rasa sayang yang tumbuh lama-lama akan menjadi cinta yang menjerat antara keegoisan tidak ingin kehilangan dan keegoisan ingin memiliki seutuhnya. Awalnya aku takut tapi aku tidak ingin menunjukan itu semua, aku tidak ingin mengekang tapi tak ingin pula terlalu memberi ruang kebebasan untukmu. Bahkan keegoisan itu selalu muncul ketika kita menyadari bahwa kita terpisah oleh jarak. Aku tidak tau bagaimana kamu disana begitu pula kamu.
Kita sadar akan sifat kita masing-masing, sama-sama egois dan mengekang. Ketika kamu mengatakan tidak suka terlalu dikekang, aku perlahan memberi ruang untukmu tapi tidak terlewat batas. Ketika kamu menginginkan aku berubah, ya aku berubah sedikit demi sedikit agar menjadi lebih baik karena aku ingin mempertahankan "kita". Namun kekecewaan mulai muncul setelah kita menjalin hubungan cukup lama meskipun kita sempat putus-nyambung.
Aku merasa kamu mulai seenaknya, kamu terlalu egois untuk "kita" seakan-akan kamu hanya memikirkan dirimu sendiri bukan memikirkan "kita", kamu melarang ini-itu, kamu berjanji ini-itu tapi semuanya bukan menjadi lebih baik malah lebih memburuk keadaan. Harusnya kamu mengerti istilah "karena wanita ingin di mengerti", aku tidak bisa selalu mengerti kamu aku juga ingin sebaliknya.
Aku merasa kekanganmu semakin kuat padahal kita punya waktu untuk masing-masing, aku ingin sedikit saja diberi ruang karena aku juga masih ingat batasan, ingat janji kita dari awal. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu sama sekali tidak dewasa, kamu hanya memberi harapan kosong, janji-janji palsu. Tidak tau kah kamu bahwa aku menunggu sekian lama untuk melihat perubahanmu, tapi sama sekali kamu tidak menunjukan bahwa kamu ingin mempertahankan kita.
Tidak tau kah kamu bahwa sikapmulah penyebab aku meninggalkanmu, bahwa keegoisanmu lah yang membuat "kita" tidak lagi mempunya ruang untuk bersama. Andai aku tidak mempunyai kamu apa aku bisa terbang bebas?
TIDAK! Aku pergi bukan berarti tidak lagi menyayangimu tapi aku ingin memberikan jarak agar kamu dan aku lebih berpikir lagi. Tidak akan pernah menjadi baik bila terus-menerus putus-nyambung tapi tidak berpikir untuk memperbaiki hubungan dengan berintrospeksi masing-masing.
Tak ada lagi kisah yang bisa kita pertahankan, tak ada lagi sela yang harus kita isi. Mengertikah kamu kalau kita tidak pernah bisa berada dalam ikatan keegoisan yang kamu ciptakan selama ini, semuanya sudah jelas. Kita hanya butuh waktu untuk memperbaikinya, mungkin!
0
comments
Terjebak dalam keegoisanmu
0
comments
Your eyes, your voice, your song, who are you?
Ini hari keempat gue datang ke cafe di bilangan daerah Kemang. Hari ini gue datang sendiri sepulang selesai sekolah. Gue sudah memesan meja dekat panggung kecil yang sengaja disediakan untuk live music di cafe tersebut. Gue memesan cappucino dan pie stoberi, gue juga membawa camera slr.
Sudah jam delapan padahal tapi band pengisinya masih belum band laki-laki itu. Gue masih menunggu sampai jam sembilan lebih sepuluh, akhirnya sosok yang gue tunggu-tunggu naik ke atas panggung dan mulai menyanyikan lagu Jar of heart, gue sangat menikmati bahkan saat memandang laki-laki yang memegang mic itu, matanya yang sipit, rambutnya yang sedikit gondrong, dan suaranya yang indah. Ketika laki-laki itu menatap tepat ke meja gue, hati gue sontak berdetak dengan kencang, gue benar-benar mengaguminya. Gue mulai memotret tiap gerakan dari laki-laki itu.
Kira-kira seminggu yang lalu gue datang ke cafe ini saat sahabat gue ulang tahun, band pengiringnya adalah band laki-laki itu. Pertama kali gue melihatnya gue langsung menyukainya, mungkin ini yang dinamakan cinta pada pandangan pertama. Dan sialnya waktu itu gue lupa menanyakan namanya, sampai pada akhirnya gue tertarik untuk datang ke cafe ini lagi untuk bertemu laki-laki itu.
Saat asik memotret si laki-laki idaman, tiba-tiba handphone gue bergetar menandakan ada telepon masuk, gue melihat nama "my mom" dilayar hp, hati gue mencelos, gue melihat jam ditangan sudah jam sepuluh malam lewat, sudah lewat dari jam "bebas" gue. Gue cepat-cepat menuju kasir dan membayar lalu segera keluar dari cafe sambil menelepon mama.
"Iya ma, ini baru selesai kerja kelompoknya, ini mau pulang ko. Iya-iya ma.."
Gue menunggu taksi yang lewat, sudah hampir lima belas menit gue menunggu tapi taksi yang lewat selalu penuh. Gue ngedumel sambil lalu mengambil kamera dari kantong dan melihat-lihat hasil jepretan barusan, gue tersenyum bahkan lupa untuk segera pulang ke rumah. Sampai tiba-tiba seseorang berseru dari belakang..
"Memotret diam-diam tanpa minta izin terlebih dahulu bisa dikira paparazi loh!"
Gue sontak menoleh dan kaget saat melihat si cowo idaman bertengger manis diatas motornya sambil nyengir kuda kepada gue. Kalau saat itu gue bawa kaca, gue akan melihat wajah bego gue dengan mulut menganga.
"Eh, ini.." ucap gue gelagapan
"Udah, naek ke motor gue, gue anter lo pulang"
"Serius mau anterin gue pulang?" Tanya gue tidak percaya
"Serius lah, apa tampang gue ada tampang penculik? Gue anter lo balik sampe rumah. Mana tega gue ngebiarin anak sekolahan masih pake seragam terus nungguin taksi daritadi sendirian," kata si cowo sambil lalu tertawa renyah.
Deg! Hati gue berdetak lagi dengan kencang. Bahkan yang seharusnya gue selalu memperhatikan dia, dialah yang kini memperhatikan gue sedari tadi menunggu taksi yang lewat. Gue bahkan tidak mempercaya dia kini berbicara dengan gue, dan lebih tidak percaya saat kaki gue melangkah untuk naik ke atas motornya. Punggungnya lebar dan gue bisa mencium wangi parfumnya.
Kalau boleh gue malah ingin memeluknya dari belakang, gue ingin menghilangkan jarak diantara kita yang bahkan sudah sedekat ini, gue ingin mencium parfumnya lebih dekat. Mengertikah kau apa artinya ini? Mengertikah kau kalau aku mengagumimu meskipun sampai sedekat ini pun aku belum tau siapa namamu. Kau, aku, tau itu !