"Hai!" Aku menyapamu terlebih dahulu, meski ku lihat kau hanya memberi senyum seadanya dan wanita disampingmu masih tetap menggenggam tanganmu, seakan tak ingin aku merebutmu darinya. Aku kembali ke parkiran namun salah satu dari temanmu memanggil agar aku bergabung bersama kalian. Aku tidak menolak karena aku masih ingin memandangmu lebih lama lagi. Kita saling berbicara dan tertawa, meskipun wanita disampingmu tetap menggelayut ditanganmu. Aku sedikit risih, tapi tak berhak untuk berkomentar. Kamu begitu menyenangkan meskipun wanita disampingmu seolah tak ingin jika kamu memandang ke arahku saat berbicara. Dia seperti penghalang diantara kita. Aku menggerutu jengkel.
Selang setahun, aku tak pernah dengar kabar tentangmu. Kita tak pernah lagi bertemu karena kesibukan masing-masing yang menyita waktu. Padahal aku terkadang masih menghubungi teman kita. Namun aku selalu mendapatkan jawaban tidak menyenangkan ketika ku tanyakan kamu padanya. Dia selalu menjawab, kamu sibuk dengan si itu, si anu, si dia, entah sudah beberapa cerita ku dengar tentang dirimu. Aku kecewa...
Lalu, apa ini memang seperti yang dikatakan jika jodoh itu akan kembali lagi atau hanya kebetulan. Aku dan kamu bertemu kembali. Kita saling bertukar cerita dan mengenang masa lalu diantara kita, ya diantara aku, kamu dan temang-teman lainnya. Seakan nostalgia, dan mengingatkan aku kembali ke masa awal aku menyukaimu, mengagumimu, bahkan aku merasa ingin memilikimu lebih dari sekedar teman.
Namun aku masih menahan semuanya sendirian, karena kamu menceritakan seseorang yang lain yang baru berada dihatimu. Entah harus tersenyum atau benar-benar cemburu yang harus aku perlihatkan dari ekspresi wajahku? Dan aku memilih untuk tertawa.
Telah ku sediakan telingaku untuk mendengar ceritamu tentang entah siapa seseorang itu. Telah ku siapkan hatiku untuk menahan rasa sakit yang pasti akan terasa ketika kamu menceritakan tentang dia. Mungkin aku tak paham bagaimana cara untuk ku perlihatkan perasaanku yang sesungguhnya, ataukah kau yang tak paham arti mencintai dalam diam?
Saturday, January 19, 2013 -
1 comments
1 comments
Mungkin Kau Tak Paham
Tuesday, January 15, 2013 -
0
comments
0
comments
Penantian
Lihatlah? Aku bertahan tanpa mengeluh
Meski harus ku abaikan setiap peluh
Berdiri, diam sambil memandang
Seolah tak lelah untuk menantang
Meski kau berlari aku tetap mengejar
Tak perduli walau sampai fajar
Diam-diam aku memperhatikan
Lalu sampai kapan aku akan bertahan
Senja memerah saat aku menanti
Namun tak pernah ada yang pasti
Lalu mengapa aku masih bertahan
Meski dia tetap tak ingin melawan
Satu persatu langkahku kembali
Kau ancam aku dengan belati
Bila kau tak inginkan aku pergi
Tahan aku dengan cinta yang suci
(Penantian, cipt. Myraawe)
Meski harus ku abaikan setiap peluh
Berdiri, diam sambil memandang
Seolah tak lelah untuk menantang
Meski kau berlari aku tetap mengejar
Tak perduli walau sampai fajar
Diam-diam aku memperhatikan
Lalu sampai kapan aku akan bertahan
Senja memerah saat aku menanti
Namun tak pernah ada yang pasti
Lalu mengapa aku masih bertahan
Meski dia tetap tak ingin melawan
Satu persatu langkahku kembali
Kau ancam aku dengan belati
Bila kau tak inginkan aku pergi
Tahan aku dengan cinta yang suci
(Penantian, cipt. Myraawe)
Lihatlah di sampingmu
Aku masih memperhatikan Adit yang asik bermain dengan playstationnya. Aku tidak mengeluh atau mengganggunya meskipun sudah hampir dua jam dia tidak menghiraukan keberadaanku. Sejam yang lalu aku menyuapi dia, sementara dia asik dengan dunianya. Aku memperhatikan keseriusan dari wajahnya. Aku menikmatinya, meskipun terkadang aku juga merasa kesepian.
Sudah pukul delapan malam, waktunya Adit mengantarkanku pulang. Dia tidak mematikan televisinya, karena aku sudah tahu, setelah dia mengantarkanku pulang dia akan melanjutkan bermain game.
Diatas motor, aku memeluknya dengan sangat erat. Entah mengapa perasaanku hancur tak karuan, aku seperti merasa tak akan lagi aku bisa memeluknya seerat ini. Dibanding dengan semua gamenya, aku merasa tidak dipentingkan di hidupnya. Sebenarnya siapakah aku baginya? Bila diantara semua gamenya, aku selalu merasa terasingkan.
"Kamu kenapa?" Tanya Adit setengah berteriak.
"Engga kenapa-napa, kok. Kamu tadi makannya banyak, ya."
"Iya dong."
Setelah sampai didepan rumahku, sebenarnya aku tidak ingin turun dari motor, masih ingin memeluknya, masih rindu padanya.
"Hey, kamu ngga akan turun?" Seru Adit mengagetkanku.
Aku manyun lalu turun dari motor, mencubit kedua pipi Adit sambil berkata, "kamu jaga kesehatan ya, jangan banyak ngerokok, jangan lupa solatnya ya."
"Iya baweeel."
"Apa perhatianku ini selalu mengganggumu?"
"Kok bilang gitu?"
"Habisnya, aku selalu merasa tidak dihiraukan setiap kamu sibuk dengan duniamu."
"Kamu cemburu sama game yang aku mainkan?"
"Kalau aku nanti sudah ngga ada, apa kamu masih akan sibuk dengan duniamu?"
Adit diam untuk beberapa saat sampai berkata dengan pelan dan pasti, "aku tidak akan sesemangat ini dengan duniaku, karena selalu ada kamu yang menjadikan adanya duniaku. Bukan tentang gamenya, tapi kamu yang menyemangatiku, kamu yang mengingatkanku untuk tidak lupa dengan kewajibanku."
Aku diam tertegun mendengar pengakuan darinya.
"Aku minta maaf jika selama ini kamu merasa terasingkan saat aku sibuk dengan duniaku. Kalau tidak ada kamu, tentunya tidak akan ada duniaku. Karena kamulah duniaku."
Dan ini hari ke empat puluh. Aku melihat Adit duduk terpekur didepan sebuah kuburan dengan tanah yang masih basah. Dia menundukkan kepala, membacakan ayat kursi dengan berusaha menahan tangisnya. Aku juga melihat mamah dan papah yang merangkul Adit di kedua sisinya, keduanya menangis. Saat aku melihat ke batu nisan, aku melihat namaku tertera disana.
Adit tidak lagi sibuk dengan dunianya, dia lebih banyak diam dengan beberapa lukisan hasil karyanya. Goresan wajah wanita yang mendominan lukisan yang dibuatnya. Selang setahun, Adit membuka pameran lukisan digalerinya. Aku melihat dia berdiri didepan sebuah lukisan wanita yang sangat cantik. Aku melihat secarik kertas didalam figura disebelah lukisan itu, bertuliskan:
"Aku selalu mengingat pesanmu,
mengingat perhatianmu, dan mengingat setiap inci dari wajahmu.
Tak ada dunia yang begitu indah kecuali berada disampingmu.
Entah karena kebodohanku yang membuatmu merasa terabaikan,
Atau aku yang memang bodoh untuk selalu sibuk dengan duniaku.
Ya, aku memang bodoh telah menyia-nyiakan setiap waktu kebersamaan kita.
Kini tak ada lagi duniaku, namun aku memilih duniamu untuk ku perhatikan.. "
I love you because i love you are - Aditya Alamsyah
Untuk yang tercinta: Aqila.
Sudah pukul delapan malam, waktunya Adit mengantarkanku pulang. Dia tidak mematikan televisinya, karena aku sudah tahu, setelah dia mengantarkanku pulang dia akan melanjutkan bermain game.
Diatas motor, aku memeluknya dengan sangat erat. Entah mengapa perasaanku hancur tak karuan, aku seperti merasa tak akan lagi aku bisa memeluknya seerat ini. Dibanding dengan semua gamenya, aku merasa tidak dipentingkan di hidupnya. Sebenarnya siapakah aku baginya? Bila diantara semua gamenya, aku selalu merasa terasingkan.
"Kamu kenapa?" Tanya Adit setengah berteriak.
"Engga kenapa-napa, kok. Kamu tadi makannya banyak, ya."
"Iya dong."
Setelah sampai didepan rumahku, sebenarnya aku tidak ingin turun dari motor, masih ingin memeluknya, masih rindu padanya.
"Hey, kamu ngga akan turun?" Seru Adit mengagetkanku.
Aku manyun lalu turun dari motor, mencubit kedua pipi Adit sambil berkata, "kamu jaga kesehatan ya, jangan banyak ngerokok, jangan lupa solatnya ya."
"Iya baweeel."
"Apa perhatianku ini selalu mengganggumu?"
"Kok bilang gitu?"
"Habisnya, aku selalu merasa tidak dihiraukan setiap kamu sibuk dengan duniamu."
"Kamu cemburu sama game yang aku mainkan?"
"Kalau aku nanti sudah ngga ada, apa kamu masih akan sibuk dengan duniamu?"
Adit diam untuk beberapa saat sampai berkata dengan pelan dan pasti, "aku tidak akan sesemangat ini dengan duniaku, karena selalu ada kamu yang menjadikan adanya duniaku. Bukan tentang gamenya, tapi kamu yang menyemangatiku, kamu yang mengingatkanku untuk tidak lupa dengan kewajibanku."
Aku diam tertegun mendengar pengakuan darinya.
"Aku minta maaf jika selama ini kamu merasa terasingkan saat aku sibuk dengan duniaku. Kalau tidak ada kamu, tentunya tidak akan ada duniaku. Karena kamulah duniaku."
Dan ini hari ke empat puluh. Aku melihat Adit duduk terpekur didepan sebuah kuburan dengan tanah yang masih basah. Dia menundukkan kepala, membacakan ayat kursi dengan berusaha menahan tangisnya. Aku juga melihat mamah dan papah yang merangkul Adit di kedua sisinya, keduanya menangis. Saat aku melihat ke batu nisan, aku melihat namaku tertera disana.
Adit tidak lagi sibuk dengan dunianya, dia lebih banyak diam dengan beberapa lukisan hasil karyanya. Goresan wajah wanita yang mendominan lukisan yang dibuatnya. Selang setahun, Adit membuka pameran lukisan digalerinya. Aku melihat dia berdiri didepan sebuah lukisan wanita yang sangat cantik. Aku melihat secarik kertas didalam figura disebelah lukisan itu, bertuliskan:
"Aku selalu mengingat pesanmu,
mengingat perhatianmu, dan mengingat setiap inci dari wajahmu.
Tak ada dunia yang begitu indah kecuali berada disampingmu.
Entah karena kebodohanku yang membuatmu merasa terabaikan,
Atau aku yang memang bodoh untuk selalu sibuk dengan duniaku.
Ya, aku memang bodoh telah menyia-nyiakan setiap waktu kebersamaan kita.
Kini tak ada lagi duniaku, namun aku memilih duniamu untuk ku perhatikan.. "
I love you because i love you are - Aditya Alamsyah
Untuk yang tercinta: Aqila.
Subscribe to:
Posts (Atom)