Saturday, December 8, 2012 - 0 comments

Terjebak dalam keegoisanmu

Tidak pernah aku menyangka akan mengakhiri semuanya begitu pelan dan tenang, aku tidak ingin menyakitimu begitu pula dengan hatiku sendiri. Aku tidak akan pernah munafik bahwa aku begitu menyayangimu begitu pula aku menyayangi diriku sendiri.
     Awalnya semua memang terasa menyenangkan, ada aku dan kamu yang telah menjadi kita, tak ada lagi ruang kosong yang perlu kita isi karena semua sudah terisi oleh cinta yang kita bina selama ini. Aku bahagia mendapatkan perhatian setiap hari darimu, mendapatkan pesan singkat yang terkadang membuat aku tertawa sendirian, aku seperti orang gila, ya gila karena cintamu..
    Bulan demi bulan kita lalui sampai pada akhirnya ketakutan itu muncul, ketakutan akan kehilangan "kita". Seperti pada dasarnya rasa sayang yang tumbuh lama-lama akan menjadi cinta yang menjerat antara keegoisan tidak ingin kehilangan dan keegoisan ingin memiliki seutuhnya. Awalnya aku takut tapi aku tidak ingin menunjukan itu semua, aku tidak ingin mengekang tapi tak ingin pula terlalu memberi ruang kebebasan untukmu. Bahkan keegoisan itu selalu muncul ketika kita menyadari bahwa kita terpisah oleh jarak. Aku tidak tau bagaimana kamu disana begitu pula kamu.
     Kita sadar akan sifat kita masing-masing, sama-sama egois dan mengekang. Ketika kamu mengatakan tidak suka terlalu dikekang, aku perlahan memberi ruang untukmu tapi tidak terlewat batas. Ketika kamu menginginkan aku berubah, ya aku berubah sedikit demi sedikit agar menjadi lebih baik karena aku ingin mempertahankan "kita". Namun kekecewaan mulai muncul setelah kita menjalin hubungan cukup lama meskipun kita sempat putus-nyambung.
     Aku merasa kamu mulai seenaknya, kamu terlalu egois untuk "kita" seakan-akan kamu hanya memikirkan dirimu sendiri bukan memikirkan "kita", kamu melarang ini-itu, kamu berjanji ini-itu tapi semuanya bukan menjadi lebih baik malah lebih memburuk keadaan. Harusnya kamu mengerti istilah "karena wanita ingin di mengerti", aku tidak bisa selalu mengerti kamu aku juga ingin sebaliknya.
     Aku merasa kekanganmu semakin kuat padahal kita punya waktu untuk masing-masing, aku ingin sedikit saja diberi ruang karena aku juga masih ingat batasan, ingat janji kita dari awal. Tapi apa yang kamu lakukan? Kamu sama sekali tidak dewasa, kamu hanya memberi harapan kosong, janji-janji palsu. Tidak tau kah kamu bahwa aku menunggu sekian lama untuk melihat perubahanmu, tapi sama sekali kamu tidak menunjukan bahwa kamu ingin mempertahankan kita.
     Tidak tau kah kamu bahwa sikapmulah penyebab aku meninggalkanmu, bahwa keegoisanmu lah yang membuat "kita" tidak lagi mempunya ruang untuk bersama. Andai aku tidak mempunyai kamu apa aku bisa terbang bebas?
     TIDAK! Aku pergi bukan berarti tidak lagi menyayangimu tapi aku ingin memberikan jarak agar kamu dan aku lebih berpikir lagi. Tidak akan pernah menjadi baik bila terus-menerus putus-nyambung tapi tidak berpikir untuk memperbaiki hubungan dengan berintrospeksi masing-masing.
     Tak ada lagi kisah yang bisa kita pertahankan, tak ada lagi sela yang harus kita isi. Mengertikah kamu kalau kita tidak pernah bisa berada dalam ikatan keegoisan yang kamu ciptakan selama ini, semuanya sudah jelas. Kita hanya butuh waktu untuk memperbaikinya, mungkin!

0 comments:

Post a Comment